
Fotografi sebagai Sarana Branding dalam Peralihan Main Stream Media Promosi Produk
On 25 June 2020 by IrwandiKamis, 25 Juni 2020, saya melayani sesi konsultasi skripsi penciptaan seni fotografi seorang mahasiswi. Sang mahasiswi bernama Bewa, yang dalam skripsinya melakukan sebuah project branding produk kostum olah raga sebuah merek lokal di Yogyakarta. Bewa ternyata bekerja sebagai content creator akun instagram untuk merek tersebut. Dari situlah terungkah bahwa peran fotografi dalam menaikkan nilai sebuah produk sangat signifikan. Terbukti, bahwa sejak Bewa menjadi fotografer utama dan sebagai ‘kurator’ dalam akun instagram merek kostum olah raga tersebut, yang mana ia bertanggung jawab dalam konsep foto, caption dan tema promosi perusahaan, omset perusahaan dalam penjualan produk meningkat, dari 150 juta menjadi 600 juta dalam setahun. Ini membahagiakan saya, Bewa dapat membuktikan bahwa belajar fotografi secara formal/akademis dapat menjadikannya seorang fotografer yang tidak hanya berkutat di permasalahan teknis, namun juga pada permasalahan ide, dan inovasi. Fakta yang Bewa alami, menjadi inspirasi untuk diangkat sebagai tema skripsi, yang membuktikan bahwa pengetahuan akademis fotografi (yang sering dipandang tidak signifikan dalam praktik fotografi) memiliki makna penting dan konkret, yaitu peningkatan insight instagram dan peningkatan penjualan produk.
Dari sini semakin jelas bahwa fotografi dengan karakter visual realistiknya memiliki nilai ungkit yang dahsyat, terlebih bila fotografi dilakoni oleh orang yang belajar, bukan saja teknis, tapi dibarengi dengan konsep dan pemikiran. Sajian sebuah foto yang ‘berisi’, secara langsung akan memberi dampak pada pemirsa. Bewa hanyalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa fotografi yang sudah bekerja sebagai penyedia content fotografi. Banyak teman-temannya yang melakukan hal serupa di berbagai perusahaan. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa keseimbangan baru dalam pasar fotografi telah terbentuk. Instagram telah menjadi media baru yang menampung distribusi uang belanja Iklan perusahaan, mengimbangi, bahkan jauh meninggalkan media konvensional.
Kabar lain yang saya dapatkan dari Bewa, ternyata ia tidak sendiri. Bewa mengajar dua orang temannya untuk bergabung di perusahaan tersebut. Kedua orang tersebut memiliki peran yang berbeda, yaitu sebagai videografer dan designer. Yang menarik, keduanya adalah mahasiswa aktif Jurusan Fotografi FSMR ISI Yogyakarta. Kabar dari Bewa ini membuat saya, dalam kapasitas sebagai dosen fotografi menjadi semakin optimis dan mantab, untuk berpandangan bahwa fotografi bukanlah media yang harus berdiri sendiri. Bahwa dalam pendidikan formal fotografi, konvergensi media tidak bisa terelakkan. Bahwa sangat bisa jadi, belajar fotografi secara formal merupakan peluang, jalan masuk, dan batu loncatan untuk memasuki industri kreatif, terlebih di era revolusi industri 4.0 saat ini.
Sesi konsultasi ditutup dengan masukan dan saran dari Bewa tentang beberapa hal yang penting untuk ditambahkan dalam kurikulum pendidikan fotografi masa kini. Masukan saya terima dan akan saya sampaikan ke kolega-kolega saya di Jurusan Fotografi, FSMR ISI Yogyakarta. Terlebih, tidak lama lagi akan ada implementasi kurikulum Merdeka Belajar sesuai kebijakan Kemendikbud.
Yogyakarta, Juni 2020.
Calendar
M | T | W | T | F | S | S |
---|---|---|---|---|---|---|
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
28 | 29 | 30 |