Praktik Tinjauan Seni
On 14 June 2020 by Irwandi
Foto berjudul ‘The Thinker’ karya Pamungkas Wahyu Setiyanto merupakan salah satu dari 60 karya yang ditampilkan dalam pameran ‘Wajah Citra SS di Ragam Mirat’. Pameran ini dilangsungkan di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta pada tanggal 25-30 Maret 2019. Karya ini ditampilkan dalam konteks pameran dalam rangka purnabakti Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA., Ph.D. (SS), guru besar fotografi dan sejarah seni dari Program Studi Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta. Kata ‘Mirat’ dalam judul pameran memang belum familiar di kebanyakan pemirsa, namun sebenarnya berarti cermin. Mirat merupakan serapan dari bahasa Arab yang dalam KBBI berarti cermin. Dalam pameran ini, 60 peserta menampilkan karyanya masing-masing yang keseluruhannya ialah sosok SS yang ditampilkan dalam karya foto menurut visi para pengkarya.
Sebagaimana karya-karya lainnya, SS menjadi subject matter dalam ‘The Thinker’. sosok SS ditampilkan secara monokromatik dan dalam posisi berdiri menghadap kamera. Tangan kanan SS tampak sedang dalam posisi terangkat, memegang spidol dan jari telunjuknya menyentuh kepala. Raut wajah SS yang saat itu sedang mengenakan kaca mata semi transparan tampak sedang berbicara. SS tampak mengenakan kemeja bertonal gelap dengan motif titik-titk yang membentuk pattern. Saku kemeja SS tersemat ballpoint dan sebuah benda yang dapat diduga sebuah handphone. Dalam foto ini SS tampak berada dalam sebuah ruangan dengan latar belakang sorotan LCD projector dan jam dinding. Sorotan LCD projector menampilkan tulisan-tulisan yang terekam blur, namun pada bagian judul masih dapat terbaca OGYAKARTA (Yogyakarta), sementara jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul 12. Latar depan foto ini terlihat di sisi kanan bawah, menampilkan sesosok manusia yang membelakangi kamera, terekam blur.
Secara formal (aspek kebentukan), penataan visual yang dilakukan Pamungkas dalam karya ‘The Thinker’ menghasilkan foto yang menempatkan sosok SS sebagai pusat perhatian. hal itu dapat terjadi karena kontras yang terbentuk dari pemilihan tampilan ‘hitam-putih’ dan penempatan fokus pada saat pemotretan. Tampilan hitam putih, dalam berbagai referensi dikatakan dapat menonjolkan shape dan form benda-benda yang difoto; menghilangkan dominasi warna; dan meningkatkan konsentrasi pemirsa karya. Melalui tampilan hitam putih pula, sosok SS tampak kontras dengan pakaian yang dikenakan, juga menonjolkan ball point yang tersemat di saku kemeja terlihat jelas. Selain itu, teknik selected focusing yang diterapkan dan pemilihan difragma besar oleh Pamungkas merupakan ‘penegasan’ bahwa memang sosok SS merupakan aktor utama dalam foto ini.
Dengan berdasar pada deskripsi dan analisis formal ringkas tadi, karya ini dapat diinterpretasikan sebagai visi seorang Pamungkas terhadap sosok seorang guru. dalam kata lain, Pamungkas melalui ‘The Thinker’ menempatkan SS sebagai seorang pengajar yang mentransferkan pemikiran-pemikirannya kepada para murid. Pemaknaan seperti ini dapat didasarkan pada teori semiotika Barthesian yang memandang bahwa foto merupakan kumpulan kode-kode yang mengantarkan makna konotasi kepada pemirsa/ spektator. Barthes dalam tulisannya menyatakan bahwa ada 6 prosedur konotasi dalam foto yaitu pose, objek, aesthetism, photogenia, trick effect, dan syntax. Di tulisan lain Barthes juga menyampaikan fungsi teks penyerta gambar berfungsi sebagai anchorage dan relay.
Dalam ‘The Thinker’, sadar atau tidak, Pamungkas tampak melakukan pengolahan pose, objek, dan photogenia untuk menyampaikan pesan kepada pemirsa. Pose SS sebagaimana dijabarkan dalam deskripsi karya menjadi kode untuk sebuah karakter khas seorang pendidik, cendikia, berikut objek-objek yang tampil dalam foto (kemeja, ballpoint, sorotan projector, jam dinding). Pamungkas memilih momen dimana raut wajah SS tampak serius menyampaikan kata-kata kepada pemirsanya. Photogenia (aspek-aspek teknik fotografi, pewarnaan, pencahayaan) yang diterapkan Pamungkas, turut memperkuat pesan yang ingin ia sampaikan. lihatlah bagaimana Pamungkas memilih visual monokromatik hitam putih yang nyata tampak menjadikan sosok SS tampil dominan. Dalam perspektif gramatika visual yang pernah dirumuskan oleh Kress dan Leeuween, Pamungkas menempatkan dirinya sebagai pemirsa. Penempatan latar depan yang dilakukan Pamungkas, menegaskan hal itu. Porsi (ukuran) sosok SS dalam foto juga menunjukkan adanya ‘kedekatan’. Pamungkas tampak berusaha menempatkan SS sebagai sosok yang cukup dekat dengan para mahasiswa. Pemanfaatan pesan linguistik juga dilakukan oleh Pamungkas. itu terlihat dari judul yang ia gunakan, yang meng-anchorage arah interpretasi pemirsa pada sosok SS.
Keunikan karya Pamungkas terlihat dari bagaimana ia memilih cara pandang dan melakukan kombinasi fotografis dalam menampilkan sosok SS. Melalui pendekatan ‘Journalism Portraiture’ upaya Pamungkas tampaknya berhasil memunculkan karakter khas seorang SS. melalui karya ini, Pamungkas juga menunjukkan posisinya bukan sekadar senagai observer, namun lebih sebagai seorang murid.
Calendar
M | T | W | T | F | S | S |
---|---|---|---|---|---|---|
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
28 | 29 | 30 |