
Panel Discussion: Rethinking Photography Education: Jakarta International Photography Festival 2019
On 14 June 2020 by IrwandiPhoto by Aji Susanto Anom Photo by Courtesy of each panelist
SATURDAY, 6 JULY 2019
14:00-15:30 Panel Discussion
Rethinking Photographic Education
Panelists: Shahidul Alam, Irwandi. Moderator: Ben K. C. Laksana
Teater Kecil Auditorium, Taman Ismail Marzuki
Arsip saya saat menjadi Panelis di Jakarta International Photography Festival (JIPFest) 2019. Ada beberapa pertanyaan yang disodorkan kepada saya untuk dijawab dan dipaparkan dalam sesi diskusi panel tersebut. Sebelum acara, saya sudah mempersiapkan tulisan yang di blog ini dibagi menjadi 4 halaman. Semoga bermanfaat.
1. Apa yang kita maksudkan ketika kita mengatakan pendidikan fotografi?
ketika kita mengatakan pendidikan fotografi, maka kita sudah masuk dalam ranah pembudayaan yang bersifat holistik. Dalam arti, ada sebuah upaya untuk membentuk peserta didik yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap yang jelas dalam menjalani kehidupan fotografinya. di dalamnya ada science, penerapan, penggunaan, dan presentasi. juga ada upaya riset untuk pengembangan.
science fotografi terletak pada pemahaman prinsip-perinsip optis, mekanis, digitalisasi, bahan,
penerapan dan penggunaan akan berhubungan dengan bagaimana manusia sebagai ‘operator’ kamera dapat memahami dan menggunakan aparatus-aparatus fotografi, menghasilkan foto dengan teknik dan pertuntukan tertentu, sebagai praktik visualisasi
Presentasi berkaitan dengan hal-hal penting yang perlu diketahui dan diterapkan ketika karya-karya foto dihadirkan kehadapan publik; mengetahui bagaimana fotografi dikonsumsi dan didistribusikan.
riset dan pengembangan merupakan upaya reflektif terhadap praktik fotografi serta menemukan solusi terhadap permsalahan/pertanyaan yang mungkin timbul dalam perkembangan fotografi dan jaman.
2. Apa yang harus menjadi tujuannya? Haruskah perubahan sosial menjadi salah satu tujuan utamanya?
Tidak ada yang harus, semua arbitrer, menjadi hak bagi penyelenggara dan peserta didiknya. Namun, ketika bercermin pada apa yang telah terjadi di Indonesia, pendidikan fotografi menjadi solusi dan optimalisasi: dalam arti bagaimana perserta didik dibangun untuk dapat memanfaatkan fotografi untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batin manusia. untuk pemenuhan kebutuhan informasi faktual, realistik; menjadi komoditas; menjadi sarana penyampaian pesan. para aktor pendididkan fotografi juga selalau mengupayakan agar peserta hasil pendidikan fotografi menjawab tantangan jaman melalui fotografi.
di Indonesia, fotografi menjadi salah satu subsektor ekonomi kreatif. kebijakan pemerintah itu, juga turut memengaruhi tujuan pendidikan fotografi, mendorong penyelenggara pendidikan fotografi untuk dapat menempatkan fotografi tidak hanya sebagai kegemaran, kegiatan apresiasi seni dan budaya, namun menjadi sebuah bidang yang dapat menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan.
pendidikan fotografi secara langsung maupun tidak, bertujuan membentuk konvensi: maksudnya ialah bagaimana pendidikan fotografi menjadi semacam barometer untuk sebuah kelaziman bagi masyarakat dalam berfotografi.
pendidikan fotografi juga diharapkan dapat membangun literasi visual-fotografi spektator terhadap fotografi.
Mengenai perubahan sosial, apakah menjadi salah satu tujuan pendidikan fotografi, saya melihat bahwa hal itu hingga saat ini tidak secara jelas terlihat. yang lebih tampak ialah bagaimana fotografi dapat menjadi media untuk menyodorkan kondisi sosial terbaru kepada para spektator. perubahan sosial sering kali merupakan efek dari distribusi dan pemaknaan fotografi di masyarakat. walaupun penting, perubahan sosial sebagai tujuan dalam pendidikan fotografi bisa diagendakan atau tidak, tergantung pada jenis dan orientasi penyelenggara pendidikan fotografi yang beragam.
Calendar
M | T | W | T | F | S | S |
---|---|---|---|---|---|---|
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
28 | 29 | 30 |